You are here
Home > Uncategorized > Surveilans Kualitas Air pada Peternak Ayam Layer di Kabupaten Blitar Tahun 2019

Surveilans Kualitas Air pada Peternak Ayam Layer di Kabupaten Blitar Tahun 2019

Kabupaten Blitar merupakan salah satu daerah yang mempunyai potensi peternakan yang sangat besar, terutama potensi peternakan ayam petelur. Potensi ini juga diiringi dengan besarnya jumlah kasus penyakit yang ada di peternakan Kabupaten Blitar. Salah satu kasus yang sering terjadi adalah kolibasilosis. Kejadian penyakit ini memberikan dampak yang cukup besar terhadap perekonomian di Kabupaten Blitar. Data tahun 2019 menunjukkan bahwa jumlah populasi ayam petelur di Kabupaten Blitar adalah 17.076.200 Ekor. Populasi ini tersebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Blitar, dimana sebagian besar pelaku usahanya merupakan peternakan rakyat. Menurut data yang ada pada Dinas Peternakan dan Perikanan menunjukkan bahwa populasi terbesar ayam petelur berada di wilayah Kecamatan Ponggok, Kademangan, Srengat dan Talun.

Kolibasilosis merupakan penyakit yang bisa menyerang ayam baik itu ayam petelur maupun ayam pedaging serta unggas yang lain. Penyakit ini disebabkan oleh Escherichia Colli, yang dapat menyerang unggas pada semua kelompok umur tetapi yang lebih sering adalah menyerang unggas pada umur muda. Penyakit ini sering muncul pada pemeliharaan unggas dengan manajemen yang kurang bagus. Escherichia Colli merupakan flora normal dalam saluran cerna namun pada kasus ini Escherichia Colli menjadi patogen karena sudah berada diluar saluran cerna seperti saluran empedu, saluran kemih, paru-paru, peritonium, dan selaput otak. Penyakit kolibasilosis umumnya sebagai infeksi sekunder yang menyerang ayam pedaging dan petelur pada semua umur namun lebih sering pada umur muda. Wabah di Indonesia sering terjadi pada kelompok unggas petelur dan pedaging yang dipelihara dengan sanitasi lingkungan yang buruk atau karena serangan penyakit penyebab imunosupresi atau penyakit pernafasan.

Kolibasilosis mempunyai arti ekonomi penting bagi industri perunggasan, karena dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan, penurunan produksi, peningkatan jumlah ayam yang diafkir, penurunan kualitas karkas dan telur, serta, kualitas anak ayam. Akibat infeksi bakteri Escherichia Colli galur patogen dapat menimbulkan kelainan Patologi Anatomis yang menciri, antara lain: radang kantong hawa, radang kantong jantung berat dan radang hati berat disertai lapisan fibrin yang menutupi sebagian besar atau seluruh permukaan hati dengan warna putih keabu-abuan atau kadang-kadang kekuning-kuningan. Gambaran Patologi Anatomis yang demikian dapat ditetapkan diagnosanya sebagai “Kolibasilosis”. Ayam yang terserang kolibasilosis, umumnya memperlihatkan tanda-tanda klinis: kurus, bulu kusam, nafsu makan menurun dan murung. Pertumbuhannya terganggu, diare, bulu kotor atau lengket di sekitar pantatnya.

Pakan, air dan litter diketahui sebagai sumber infeksi dari kolibasilosis. Untuk itulah pada tahun 2019 Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar mencoba mengadakan surveilans kandungan Escherichia Colli pada air yang ada di kandang peternakan ayam. Surveilans dilaksanakan pada rentang waktu antara bulan Oktober – Desember 2019.

Surveilans dilaksanakan pada 4 kecamatan yaitu Kecamatan Srengat, Ponggok, Kademangan dan Talun, dimana keempat kecamatan tersebut mempunyai populasi ternak ayam petelur yang cukup banyak. Adapun jumlah sampel yang diambil adalah sebagai berikut :

 

No. Lokasi Jumlah sampel Jumlah peternak
1. Kec. Ponggok 8 4
2. Kec. Srengat 8 4
3. Kec. Kademangan 6 3
4. Kec. Talun 10 5

 

Untuk wilayah Kecamatan Srengat dan Ponggok, sampel yang diambil adalah sampel air sumur dan air tandon pada kandang peternakan ayam petelur. Sedangkan sampel untuk wilayah Kecamatan Talun dan Kademangan, sampel yang diambil adalah sampel air tandon dan air kran. Pengambilan sampel sebanyak 250 ml. Sampel yang telah diambil untuk selanjutnya dilakukan pengujian pada Laboratorium Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar.  Adapun hasil pengujian sampel yang telah diambil adalah sebagai berikut :

 

Tabel. 1

Kandungan bakteri per ml sampel

No Nama Alamat Tandon kran
1 Peternak 1 Ds. Tumpang Kec. Talun 3.6 3.6
2 Peternak 2 Ds. Wonorejo Kec. Talun 9.2 0
3 Peternak 3 Kel. Talun Kec. Talun 3 0
4 Peternak 4 Kel. Talun Kec. Talun 21 0
5 Peternak 5 Ds. Suruhwadang Kec. Kademangan 3 0
6 Peternak 6 Ds. Suruhwadang Kec. Kademangan 0 9.2
7 Peternak 7 Ds. Suruhwadang Kec. Kademangan 6.1 3.6

 

Tabel. 2

Kandungan bakteri per ml sampel

No Nama Alamat Tandon Sumur
1 Peternak 1 Ds. Kerjen Kec. Srengat 0 0
2 Peternak 2 Kel. Srengat Kec. Srengat 0 0
3 Peternak 3 Kel. Srengat Kec. Srengat 3.6 0
4 Peternak 4 Ds. Dermojayan Kec. Srengat 230 230
5 Peternak 5 Ds. Ponggok Kec. Ponggok 0 0
6 Peternak 6 Ds. Ponggok Kec. Ponggok 74 0
7 Peternak 7 Ds. Ponggok Kec. Ponggok 3.6 0
8 Peternak 8 Ds. Ponggok Kec. Ponggok 9.2 0
9 Peternak 9 Ds. Kawedusan Kec. Ponggok 3 3

 

Metodologi pengujian sampel air adalah dengan pengujian MPN (Most Probable Number). Penghitungan kandungan Escherichia Colli adalah per 1 ml sampel. Dari data tersebut diatas dapat dilihat bahwa 75 % air tandon yang ada di kandang ayam mengandung bakteri Escherichia Colli, sedangkan 22,3 % air sumur mengandung bakteri Escherichia Colli, dan 42,9 % air kran mengandung bakteri Escherichia Colli.

Air untuk peternakan yang layak merupakan air yang mempunyai standar baku mutu air kelas II. Kelas air adalah peringkat kualitas air yang dinilai masih layak untuk dimanfaatkan bagi peruntukan tertentu, dimana standar baku mutu air kelas II yang tertulis pada peraturan pemerintah nomor 82 tahun 2001 yaitu 1000 jml/100ml. merujuk pada peraturan tersebut, seharusnya air yang digunakan untuk peternakan yaitu 10 jml/ 1 ml. Dari hasil surveilans yang dilakukan oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Blitar menunjukkan bahwa 18.5% air tandon pada peternakan ayam dan 11.1 % air sumur pada peternakan ayam di Kabupaten Blitar melebihi ambang batas kualitas air peternakan. Sedangkan untuk air kran masih berada dibawah ambang batas kualitas air untuk peternakan.

Hasil surveilans ini menunjukkan bahwa kualitas air yang digunakan pada peternakan ayam petelur di Kabupaten Blitar merupakan air yang baik dan masih memenuhi standar air untuk pemeliharaan ternak.  Air sumur yang ada memiliki kualitas yang sangat baik, hal ini disebabkan karena air sumur yang ada di peternakan ayam petelur merupakan air yang bersumber dari mata air dalam. Namun, meskipun kandungan bakteri Escherichia Colli pada air sumur negatif, pada beberapa kandang ditemukan bahwa air tandonnya mengandung bakteri Escherichia Colli. Tingginya bakteri Escherichia Colli pada air tandon bisa disebabkan karena tandon air jarang dibersihkan oleh pemilik atau pekerja kandang. Pekerja biasanya hanya fokus pada pembersihan tempat minum. Hal ini sesuai dengan hasil pengujian mikrobiologi pada kran air yang menunjukkan bahwa hanya 3 sampel air kran yang menunjukkan hasil positif. Hasil itupun masih berada pada ambang batas keamanan air peternakan.

Melihat hasil yang diperoleh maka terdapat beberapa saran dan masukan bagi peternak ayam petelur yaitu sebagai berikut:

  1. Menerapkan biosecurity yang baik

Biosecurity merupakan langkah yang paling baik dalam rangka mencegah penularan dan penyebaran penyakit pada hewan ternak. Penerapan biosecurity ini bisa dilaksanakan dengan hal-hal yang sederhana, misalnya dengan pembatasan lalu lintas orang/tamu, desinfeksi orang maupun peralatan, alat angkut sebelum memasuki area kandang, dan lain-lain.

  1. Sanitasi dan desinfeksi kandang dan peralatannya

Kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot dengan desinfektan. Tempat minum dicu¬ci setiap 2 kali sehari. Kemudian rendam tempat minum yang telah dicuci dalam desinfektan selama 30 menit, setiap 4 hari sekali. Majukan atau rnundurkan jadwal desinfeksi bila bertepatan dengan jadwal vaksinasi.

  1. Menerapkan cara pemeliharaan ternak yang baik.

Penerapan ini diharapkan dapat mencegah stress pada ternak. Karena saat stres, semua bibit penyakit dapat dengan mudah masuk ke tubuh ayam. Usahakan menghindari stres pada ayam dengan cara tatalaksana pemeliharaan yang benar, populasi ayam jangan terlalu padat, ventilasi udara cukup, dan diusahakan agar kadar amonia kurang di dalam kandang.

  1. Sanitasi air minum

Sanitasi sumber air minum untuk ayam dari pencemaran logam berat dan kuman patogen dengan melarutkan desinfektan yang aman dikonsumsi ayam. Program sanitasi air minum dilakukan 1-2 kali dalam 1 minggu asal tidak mendekati jadwal vaksinasi. Sanitasi air rninum bisa dilakukan dengan klorinasi dengan cara memasukkan 3-5 ppm klorin ke dalam air minum. Lebih dari dosis tersebut, malah dapat menurunkan konsumsi ransum, konsumsi air minum dan produksi telur karena dapat merubah rasa dan bau pada air minum.  Di peternakan, klorinasi dilakukan menggunakan kaporit karena kaporit mengandung zat aktif klorin.

Saran tindak lanjut :

  1. Perlu dilakukan surveilans lagi pada periode mendatang, dengan jumlah sampel yang lebih banyak sehingga hasil yang diperoleh dapat mencerminkan kondisi yang sebenarnya ada pada peternakan ayam petelur di Kabupaten Blitar.
  2. Perlu dikukan perbaikan pada metodologi pengujian, karena satuan hasil uji belum sesuai dengan standar baku yang ada pada peraturan kualitas air. Kandungan Escherichia Colli yang dihitung adalah per ml sampel sedangkan pada standarnya adalah kandungan Escherichia Colli per 100 ml sampel.

 

Leave a Reply

Top