You are here
Home > Uncategorized > PRAKTEK PEMIJAHAN IKAN LELE(Clarias batrachus) SECARA SEMI INTENSIF PADA POKDAKAN MINA KEDUNG BAROKAH KECAMATAN SUTOJAYAN KABUPATEN BLITAR

PRAKTEK PEMIJAHAN IKAN LELE(Clarias batrachus) SECARA SEMI INTENSIF PADA POKDAKAN MINA KEDUNG BAROKAH KECAMATAN SUTOJAYAN KABUPATEN BLITAR

PRAKTEK PEMIJAHAN IKAN LELE(Clarias batrachus) SECARA SEMI INTENSIF PADA POKDAKAN MINA KEDUNG BAROKAH KECAMATAN SUTOJAYAN KABUPATEN BLITAR

Oleh : Deni Sri Budi

Pemijahan ikan lele semi intensif yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad, tetapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam. Pembenihan lele semiintensif memiliki beberapa keuntungan antara lain, pembenih dapat memperkirakan jumlah telur yang dihasilkan;  waktu atau saat telur ikan akan menetas; pemijahan dapat dilakukan diluar musim memijah, artinya dengan memiliki peluang untuk melakukan pemijahan sewaktu-waktu. Kegiatan utama pembenihan lele semi intensif ini difokuskan pada manipulasi teknik pemijahan. Dengan demikian, pembenih dapat memenuhi permintaan pasar setiap saat. Manipulasi tersebut dilakukan dengan cara memberikan perangsang pada induk ikan lele jantan dan betina melalui penyuntikan hormon ovaprim.

Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) Mina Kedung Barokah Kecamatan Sutojayan merupakan salah satu pokdakan pembenihan ikan lele yang berada di Kabupaten Blitar yang mempratekkan Pembenihan ikan lele secara semi intensif. Pemijahan semi intensif tersebut diharapkan dapat meningkatkan jumlah produksi benih sehingga produksi benih yang dihasilkan lebih banyak jika dibandingkan dengan pemijahan secara alami.

Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk pelaksanaan Pembenihan Semi Intensif pada Ikan Lele  adalah sebagai berikut :

1.Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk ikan lele dilakukan secara terpisah antara jantan dan betina. Pemisahan induk bertujuan untuk memudahkan pengontrolan, pengelolaan, dan yang paling utama adalah menghindari terjadinya pemijahan liar. Dengan demikian, tingkat kematangan kelamin induk ikan lele sudah bisa dipastikan benar-benar siap untuk memijah.

Kolam yang digunakan untuk pemeliharaan induk ikan lele bisa berupa kolam tanah, tembok, atau tanah dengan dinding tembok. Ukuran dan bentuk kolam pemeliharaan induk disesuaikan dengan ukuran dan bentuk lahan. Hal yang perlu dipertimbangkan saat pembuatan kolam pemeliharaan induk ini adalah biaya pembuatan, teknis pemeliharaan dan penanganannya. Sehingga ukuran dan bentuk kolam harus disesuaikan dengan teknis pemeliharaan yang paling mudah dengan biaya yang paling murah.

Kepadatan penebaran induk ikan lele di kolam pemeliharaan ini antara 4-5 kg/ m². Ketinggian air kolam diatur hingga ketinggian stabil 60-75 cm. Untuk menjaga kualitas air, sebaiknya gunakan air bersih dan tidak tercemar oleh limbah rumah tangga maupun limbah lain. Usahakan agar debit air yang masuk cukup stabil yaitu 20 liter/menit sehingga supplay oksigen terlarut dalam air tetap optimal.

Agar diperoleh kematangan induk yang memadai, setiap hari induk diberi pakan bergizi. Jenis pakan yang diberikan berupa pakan buatan berupa pelet sebanyak 3-5% per hari dari bobot induk yang dipelihara. Pakan diberikan dua sampai tiga kali sehari pada pagi, sore, dan malam hari.

2. Pemilihan Induk

Pemilihan atau seleksi induk ikan lele perlu dilakukan untuk memastikan bahwa induk benar-benar telah siap untuk dipijahkan. Tidak semua induk yang kita pelihara memiliki pertumbuhan yang seragam, sehingga akan menghasilkan keragaman tingkat kesiapan induk yang akan  dipijahkan.

Persyaratan induk lele dengan teknik pemijahan secara semiintensif adalah :Induk ikan lele baik jantan maupun betina telah mencapai umur 12 bulan. Saat melakukan seleksi induk ikan lele, penangkapan harus dilakukan dengan hati-hati. Cara penangkapan induk dilakukan  dengan menyurutkan air kolam, hingga induk lele tersebut berkumpul di kemalir. Kemudian induk ikan lele ditangkap menggunakan seser dan dimasukkan ke dalam bak plastik atau wadah yang telah dipersiapkan.

  • Ciri-ciri induk ikan lele betina yang telah siap untuk dipijahkan sebagai berikut.
  1. Bagian perut tampak membesar ke arah anus dan jika diraba terasa lembek.
  2. Lubang kelamin berwarna kemerahan dan tampak agak membesar.
  3. Jika bagian perut secara perlahan diurut ke arah anus, akan keluar beberapa butir telur berwarna       kekuning-kuningan dan ukurannya relatif besar.
  4. Pergerakannya lamban dan jinak.
  • Ciri-ciri induk ikan lele jantan yang telah siap untuk dipijahkan sebagai berikut.

1.Alat kelamin tampak jelas dan lebih runcing.

2.Warna tubuh agak kemerah-merahan.

3.Tubuh ramping dan gerakannya lincah.

3.Penyuntikan Induk Ikan lele

Keberhasilan pemijahan ditentukan oleh keberhasilan proses pematangan akhir gonad yang sejalan dengan penambahan hormonal, sehingga teknik penyuntikan sendiri bukanlah merupakan suatu penentu keberhasilan tersebut. Persyaratan agar penyuntikan dengan hormon dapat efektif maka induk ikan lele harus sudah mengandung telur yang siap untuk memijah (matang gonad). Apabila kondisi induk tidak matang gonad, tentu injeksi hormon yang dilakukan tidak akan efektif (tidak berhasil).

Dok. Praktek Penyuntikan Induk Ikan Lele pada Pokdakan Mina Kedung Barokah

Penyuntikan Induk Lele Dengan Hormon Ovaprim

Prosedur kerja pemijahan induk lele secara semi intensif dengan hormon buatan adalah sebagai berikut :

  • Siapkan alat suntik dan hormon Ovaprim untuk disuntikkan.
  • Gunakan injeksi spluit yang sudah dibersihkan dengan air panas atau gunakan injeksi yang baru.
  • Timbang induk ikan lele (jantan dan betina) dan tentukan dosis Ovaprim. Induk yang beratnya ± 1 kg, dosis hormon Ovaprim 0,3-0,5 ml. Bila beratnya 0,5 kg maka dosis yang diperlukan setengah nya, yakni 0,15 – 0,25 ml (sesuai petunjuk pada wadah hormon tersebut).
  • Sedot dengan alat injeksi spluit sebanyak hormon yang diperlukan, misalnya 0,5 ml. Usahakan posisi botol dan injeksi spuit tegak lurus, botol berada di atas. Setelah itu, sedot lagi dengan injeksi spuit yang sama akuades sebanyak 0,5 ml juga untuk mengencerkannya.
  • Cara menyuntik. Tangkap induk lele dengan menggunakan seser induk. Kemudian seorang membantu memegang induk lele yang hendak disuntik (ikan betina terlebih dahulu) dengan menggunakan kain untuk menutup dan memegang kepala ikan dan memegang pangkal ekornya. Kemudian suntikkan hormon yang sudah disiapkan tadi ke dalam daging lele di bagian punggung, setengah dosis di sebelah kiri dan setengah dosis disebelah kanan dengan kemiringan jarum sunik 40 – 45º. Kedalaman jarum suntik ± 1 cm dan disesuaikan dengan besar kecilnya tubuh ikan.

Lakukan penyuntikan secara hati-hati. Setelah obat didorong masuk, jarum dicabut lalu bekas suntikkan ditekan/ditutup dangan jari telunjuk beberapa saat agar obat tidak keluar. Penyuntikan harus dilakukan pada pagi atau sore hari. Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung atau bagian daging ikan lele yang paling tebal dengan kemiringan lebih kurang sedalam 2 cm.  Setelah disuntik, ikan jantan dan betina dimasukkan ke dalam bak pemijahan. Proses selanjutnya sama dengan penanganan pada pemijahan alami yaitu pemasangan kakaban, pengisian air kolam dengan ketinggian 20-30 cm, persiapan kolam penetasan, pemeliharaan larva dan pemanenan benih.

Dok. Persiapan Kolam Pemijahan

Demikian sekilas informasi tentang praktek pemijahan ikan lele secara semi intensif. Semoga materi ini mampu memberikan wawasan tentang pemijahan semi intensif pada pembudidaya ikan lele sehingga dapat meningkatkan produksi benih ikan lele khususnya pembudidaya ikan lele di Kabupaten Blitar.

Daftar Pustaka :

http://andina2012.blogspot.co.id/2011/12/teknik-kawin-suntik-dengan-hormon.html

http://petunjukpraktisbudidaya.blogspot.com/2013/06/budidaya-ikan-lele-pembenihan.html

 

Leave a Reply

Top