You are here
Home > Uncategorized > BIOFLOK DAN AQUAPONIK TEKNOLOGI BUDIDAYA IKAN NILA TERPADU DI KABUPATEN BLITAR

BIOFLOK DAN AQUAPONIK TEKNOLOGI BUDIDAYA IKAN NILA TERPADU DI KABUPATEN BLITAR

Oleh : Sutiah, S.Pi

Pengawas Perikanan

Perkembangan kota yang pesat berdampak pada semakin berkurangnya lahan pertanian dan perikanan yang ada. Seiring maraknya pembangunan perekonomian dan pemukiman, semakin meningkat pula alih fungsi lahan. Lahan-lahan yang dulunya merupakan lahan pertanian, perikanan dan peternakan berubah menjadi pemukiman penduduk dan kawasan industri.

Pemanfaatan pekarangan merupakan salah satu pilihan  untuk penyediaan kebutuhan pertanian dan perikanan karena semakin menyempitnya potensi lahan yang bisa dimanfaatkan. Pemanfaatan pekarangan kemudian sangat erat kaitannya dengan usaha mencapai ketahanan pangan masyarakat yang dimulai dari skala yang paling kecil, yaitu skala rumah tangga. Salah satu cara yang bisa digunakan dalam pemanfaatan pekarangan adalah dengan mengkombinasikan teknologi budidaya ikan dan tanaman dalam satu lahan atau dalam istilah perikanan teknologi bioflok dan aquaponik.

Bio berarti hidup, flok itu gumpalan. Jadi bioflok adalah gumpalan hidup. Jadi bakteri-bakteri itu tumbuh menjadi gumpalan yang akhirnya tumbuh menjadi makanan ikan. Dengan metode ini, sisa-sisa pakan atau kotoran ikan akan diolah oleh bakteri tersebut lalu menjadi makanan lagi namun dengan persentase yang rendah.

Penerapan dan pengembangan budidaya sistem bioflok merupakan hasil dari inovasi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan terhadap teknologi yang efektif dan efisien termasuk dalam penggunaan sumber daya udara, lahan dan kemampuan yang digunakan terhadap perubahan iklim. Keterbatasan sumberdaya alam seperti air dan lahan menjadikan intensifikasi sebagai pilihan yang paling memungkinkan dalam meningkatkan produksi budidaya. Teknologi bioflok merupakan salah satu alternatif dalam mengatasi masalah kualitas air dalam akuakultur yang diadaptasi dari teknik pengolahan limbah domestik secara konvensional.

Aquaponik adalah sistem pertanian berkelanjutan yang mengkombinasikan akuakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat simbiotik. Dalam meningkatkan toksisitas air juga tidak dibuang. Dalam akuaponik ekskresi diolah oleh bakteri menjadi nitrat melalui proses alami dan dimanfaatkan oleh tanaman sebagai nutrisi. Air kemudian bersirkulasi kembali ke sistem akuakultur.

Aquaponik merupakan sebuah alternatif menanam tanaman dan memelihara ikan dalam satu wadah. Proses dimana tanaman memanfaatkan unsur hara yang berasal dari kotoran ikan yang apabila dibiarkan di dalam kolam akan menjadi racun bagi ikannya. Lalu tanaman akan berfungsi sebagai filter vegetasi yang akan mengurai zat racun tersebut menjadi zat yang tidak berbahaya bagi ikan, dan suplai oksigen pada air yang digunakan untuk memelihara ikan. Siklus ini akan menguntungkan baik bagi ikan maupun tanamannya dan bagi kita yang  mengaplikasikanya tentu saja akan sangat diuntungkan karena lahan yang dipakai tidak terlalu luas sehingga masuk dalam kategori budidaya super intensif. Sistem ini muncul sebagai jawaban dari permasalahan semakin sedikitnya ketersediaan sumber air yang sesuai untuk budidaya ikan, khususnya di lahan sempit. Keuntungan lain dari sistem ini adalah hasil yang didapatkan optimal dan komoditas yang dihasilkan lebih organik karena tidak menggunakan pestisida sehingga aman untuk dikonsumsi. Pemakaian air yang hemat serta lahan yang relatif tidak luas menyebabkan pemilihan lokasi dapat dilakukan dimana saja.

Teknologi budidaya ikan nila sistem bioflok dipadukan dengan aquaponik telah dilakukan oleh seorang pembudidaya ikan di Kelurahan Nglegok Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Teknologi ini sangat efektif dan efisien terutama untuk lahan yang sempit.

Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk budidaya bioflok dan akuaponik adalah :

Alat dan bahan bioflok Alat dan bahan aquaponik
1.      Kolam bulat diameter 5 m

2.      Aerator

3.      Selang dan batu aerasi

4.      Serokan

5.      Benih ikan nila ukur 10 gram

6.      Molase

7.      Probiotik

8.      Garam

9.      Kapur

  1. Pipa PVC ukuran 3” + knee, sock T
  2. Pipa PVC ukuran 2” + knee, sock T
  3. Pipa PVC ukuran 3/4”
  4. Pipa PVC ukuran 1/2” + knee, sock T
  5. Pompa
  6. Kayu dan rangka galvalum
  7. Pot aquaponik
  8. Spons persemaian
  9. Baki plastik
  10. Benih sayuran

Langkah-langkah budidaya ikan nila sistem bioflok dan aquaponik :

  1. Menyiapkan kolam bulat diameter 5 meter dengan ketinggian air 90 cm dan diisi ikan nila berat 10 gram, padat tebar 100 ekor/m3 (1.700 ekor/kolam) serta dilengkapi dengan selang dan batu aerasi
  2. Menyiapkan kayu dan rangka galvalum sebagai penyangga pipa paralon
  3. Pembuatan wadah tanaman. Untuk menaruh tanaman, digunakan pipa paralon yang di diberi lubang diatasnya sesuai dengan ukuran wadah tanaman. Pada ujung paralon dibuat lubang kecil sebagai tempat untuk mengalirkan air ke kolam ikan.
  4. Penyemaian benih pada spon sampai benih mempunyai minimal dua daun dan siap dipindahkan ke pot aquaponik
  5. Setelah benih di pot aquaponik dimasukkan  ke dalam  paralon, kemudian pada kolam dipasangkan pompa aquarium, dimana selang dari pompa aquarium tersebut dimasukkan ke dalam paralon sehingga air dari kolam ikan mengalir ke dalam paralon dan kembali ke kolam ikan lagi.
  6. Sayuran dapat dipanen dalam waktu 30 – 40 hari sedangkan ikan nila dapat dipanen dalam waktu 5-6 bulan.

Keuntungan budidaya ikan sistem bioflok dan aquaponik :

  1. Budidaya ikan sistem bioflok dapat meningkatkan kelangsungan hidup (survival rate / SR) hingga lebih dari 90 persen dan tanpa pergantian air dengan Feed Conversion Ratio (FCR) atau perbandingan antara berat pakan dengan berat total (biomass) ikan dalam satu siklus periode budidaya lebih rendah.
  2. Padat tebar mencapai 100 ekor/m3 sehingga produktifitas tinggi dengan lama pemeliharaan lebih singkat.
  3. Pakan yang dibutuhkan lebih efisien namun daging atau karkasnya lebih banyak dan kandungan air dalam dagingnya lebih sedikit.
  4. Flok dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang baik bagi sayuran sehingga sayur yang dihasilkan merupakan produk organik karena hanya menggunakan pupuk dari kotoran ikan yang telah melalui proses biologis
  5. Pemeliharaan yang mudah, tidak memerlukan penyiangan, terbebas dari hama tanah dan tidak memerlukan penyiraman.

 

Daftar Pustaka

Fatmawati, 2018. Sistem Budidaya Aquaponik. https://pertanian.pontianakkota.go.id/.

Nugroho, E. dan Sutrisno. 2008. Budidaya Ikan dan Sayuran Dengan Sistem Akuaponik. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sucipto, A. 2019. Budidaya Ikan Nila Sistem Bioflok. Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi.

Leave a Reply

Top