PENTINGNYA PENERAPAN BIOSECURITY BAGI PETUGAS LAPANGAN UNTUK PENCEGAHAN PENYEBARAN WABAH PMK
Oleh : drh. Eka Yanuarti
Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit infeksi virus (family Picornaviridae) yang bersifat akut dan sangat menular pada hewan berkuku genap/belah (cloven-hoofed). Nama lain penyakit ini antara lain aphthae epizootica (AE), foot and mouth disease (FMD) . Virus PMK berukuran kecil (± 20 milimikron), tidak ber-amplop dan memiliki capsid yang kuat sehingga virus ini sangat tahan terhadap desinfektan yang cara kerjanya melarutkan lemak. Virus ini memiliki prosentase penularan bisa sampai 100%. Hewan peka dapat tertular melalui jalur inhalasi (udara / pernafasan), ingesti (melalui pakan/ minum), perkawinan (alami ataupun buatan), serta kontak / bersentuhan. Penyebaran penyakit antar area sering disebabkan oleh lalu lintas hewan tertular, kendaraan, peralatan, orang dan produk hewan yang terkontaminasi virus PMK. Anjing, kucing, rodensia, unggas, dan jenis burung tidak termasuk kedalam hewan yang peka terhadap virus PMK, namun dapat menularkan PMK kepada hewan peka secara mekanis, yaitu dengan memindahkan kontaminan. Pembuangan limbah dari tempat tertular, misalnya melalui aliran air / selokan/ sungai dapat mencemari lingkungan dan bisa menjadi sumber kontaminasi bagi kendaraan, hewan dan rumput. Berdasarkan literatur, penyebaran virus PMK dapat mencapai 10 km, yang dipengaruhi oleh perputaran udara.
Blitar, per tanggal 28 Juni 2022 adalah sebagai berikut : Total kasus telah mencapai angka 2.222, total kasus aktiv 2.141, total penambahan kasus baru 81 ekor, total sembuh 1.267 ekor, kematian terlapor 13 ekor, potong paksa 3 ekor dan jumlah vaksinasi 3.071 ekor. Mengingat hal tersebut, maka penting dicermati pula bagi para petugas dilapangan khususnya yang berkaitan erat dengan hewan, seperti antara lain petugas Kesehatan hewan (Medis dan paramedis), petugas Inseminator serta tak luput adalah petugas vaksinasi untuk terus menjaga dan menjalan SOP biosecurity lapangan, karena para petugas sangat berpotensi menjadi media penularan agen virus PMK.
Salah satu Biosecurity yang dapat diterapkan oleh para petugas lapangan adalah Sanitasi. Sanitasi merupakan tindakan pencegahan terhadap kontaminasi yang disebabkan oleh feses, liur, ataupun lendir. Kontaminasi feses dapat masuk melalui oral pada hewan (fecal-oral cross contamination). Kontaminasi ini dapat terjadi pada peralatan yang digunakan seperti sepatu boot, baju lapangan, gun IB, alat medis penanganan penyakit. Langkah pertama tindakan sanitasi adalah untuk menghilangkan bahan organik terutama feses. Bahan organik lain yaitu darah, saliva, sekresi dari saluran pernafasan, dan urin dari hewan yang sakit atau hewan yang mati. Semua peralatan yang digunakan harus di- bersihkan dan didesinfeksi untuk mencegah kontaminasi.
Standart sanitasi yang dapat dilakukan antara lain, penggunaan hand glove sekali pakai, dalam 1lokasi kandang, penggantian spuit dan needle untuk hewan suspect, penyemprotan desinfektan pada boot dan baju setiap keluar masuk kandang. Dengan rutin diterapkannya hal ini, akan membantu menekan laju penularan virus PMK.