SURVEILANS HELMINTHIASIS PADA PEDET SAPI POTONG DI WILAYAH KERJA PUSKESWAN KABUPATEN BLITAR

Andar Yuliani1

1 Medik Veteriner Madya Dinas Peternakan Dan Perikanan Kab. Blitar.

*Penulis Korespondensi: andaryuliani@gmail.com

 

Pendahuluan

Pembangunan peternakan mempunyai posisi yang sangat penting dan strategis, karena sebagai salah satu subsektor penunjang ketahanan pangan nasional. Hasil produksi bidang peternakan merupakan penyedia sumber pangan hewani untuk kelangsungan hidup manusia. Ketahanan pangan merupakan prasyarat ketahanan ekonomi dan politik suatu bangsa karena semakin tingginya pertambahan populasi penduduk menuntut adanya penyediaan bahan pangan yang semakin tinggi pula, sehingga kebutuhan akan produksi hasil ternak juga akan semakin besar. Bidang peternakan diharapkan mampu menjamin kecukupan gizi dan protein hewani sebagai penunjang terciptanya sumber daya manusia yang cerdas, trampil, kreatif dan inovatif.

Sub sektor peternakan merupakan salah satu bidang usaha yang hampir merata tersebar dan dilakukan oleh sebagian besar masyarakat di Kabupaten Blitar. Pada Tahun 2020 data produksi Kabupaten Blitar meliputi daging 43.291 ton, telur 179.962 ton dan produksi susu 40.392 ton. Produksi telur dari Kabupaten Blitar mampu memenuhi 40% kebutuhan telur Jawa Timur serta 15% kebutuhan nasional. Tingginya potensi tersebut tentunya diiringi pula dengan semakin banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh peternak. Baik itu masalah penyakit hewan, penyediaan pakan ternak, kualitas produk serta fluktuasi harga produk peternakan.

Penyakit parasiter merupakan salah satu penghambat pertumbuhan serta produktifitas pada ternak sapi. Infestasi penyakit ini dapat menurunkan bobot badan ternak secara berkala serta dalam kurun waktu yang lama (kronis dapat menyebabkan kematian akibat insufisiensi protein dalam tubuhnya. Akibatnya ternak akan mengalami kekurusan dan menurunkan nilai jual bahkan dapat menyebabkan gangguan reproduksi dan kemajiran. Infestasi parasiter (helminthiasis/cacing) ringan sampai sedang tidak selalu menampakkan gejala klinis yang nyata, sedangkan infestasi berat dari cacing dewasa dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan terhambatnya pertumbuhan pada hewan muda.

Beberapa jenis penyakit parasiter yang umum dijumpai pada ruminansia khususnya sapi adalah fasciolosis dan nematodosis yaitu cacing Haemonchus contortus, Toxocara vitulorum, Oesophagostomum sp, Bunostomum sp dan Trichostrongylus sp. Hasil surveilans penyakit parasiter pada sapi yang pernah dilaksanakan pada tahun 2019 di wilayah Puskeswa Srengat yaitu Kecamatan Srengat dan Udanawu Kabupaten Blitar menunjukkan data prevalensi penyakit parasiter/helminthiasis pada sapi yang berumur diatas 1 tahun yaitu sebesar 23 % dengan metode uji natif. Dan pada Idul Adha tahun 2021 jumlah pemotongan hewan qurban meliputi 2.057  ekor sapi, 16.909  ekor kambing dan 104 ekor domba. Dari total pemotongan hewan qurban sebanyak 19.070 ekor, terinfeksi Fasciola sp sejumlah 219 ekor, dengan angka prevalensi 1,15% dari pemeriksaan post mortem pada organ hepar.

Upaya pencegahan perlu dilakukan survelans helminthiasis/parasiter pada ternak sapi terutama pedet di wilayah Kabupaten Blitar untuk melihat kondisi kejadian penyakit parasiter di wilayah kerja UPT Puskeswan.

Maksud Dan Tujuan Kegiatan

  1. Maksud

Melaksanakan kegiatan surveillans penyakit helminthiasis dengan melakukan pengambilan dan pengujian sampel feses.

  1. Tujuan
  2. Melakukan pemeriksaan, identifikasi dan pemetaan kasus penyakit helminthiasis.
  3. Mencegah dan menanggulangi penyakit helminthiasis
  4. Mengurangi tingkat kematian ternak akibat infeksi penyakit helminthiasis
  5. Meningkatkan reproduktivitas dan produktivitas ternak dengan indikator peningkatan bobot badan

 

 

Saran utama

Sasaran utama dalam pengambilan & pemeriksaan sampel feses ini adalah sapi dengan umur maksimal 2 tahun pada peternakan rakyat di Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur.

Ruang lingkup

Ruang lingkup kegiatan pengambilan dan pengujian penyakit helminthiasis adalah dengan unit epidemiologi kecamatan wilayah kerja puskeswan. pengambilan sampel sebanyak 130 sampel.

Tempat dan Waktu pelaksanaan

  1. Tempat pengambilan sampel dilakukan di 4 wilayah kerja puskeswan yaitu Puskeswan Talun, Wlingi, Binangun dan Kesamben.
  2. Tempat dan personil pemeriksaan sampel :

pengambilan sampel feses dilaksanakan oleh petugas teknis lapangan dengan memberdayakan fungsi puskeswan. Pemeriksaan sampel dilaksanakan di laboratorium kesehatan hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar.

  1. Waktu pelaksanaan :

pelaksanaan kegiatan dilaksanakan Oktober-November 2021

Pelaksanaan kegiatan

  1. Pengambilan sampel feses

Pengambilan sampel feses pedet maksimal umur 2 tahun dilakukan oleh petugas Puskeswan Talun, Wlingi, Kesamben dan Binangun. kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2021. Adapun rician lokasi, jumlah sampel dapat dilihat pada tabel dibawah :

No. Puskeswan Kecamatan Jumlah sampel
1 Puskeswan Talun Talun, Selopuro, dan Garum 31
2 Puskeswan Binangun Binangun dan Wates 35
3 Puskeswan Kesamben Kesamben, Selorejo dan Doko 23
4 Puskeswan Wlingi Wlingi Dan Gandusari 41
  Jumlah 130

Materi Dan Metode

Metode pemeriksaan sampel feses adalah pengujian telur cacing dengan Metode Sedimentasi.

Pemeriksaan Sampel Feses

Pemeriksaan sampel feses dilakukan di Laboratorium Keswan. Parameter yang diamati meliputi jenis dan prevalensi infeksi parasit gastrointestinal. Sampel dinyatakan positif apabila ditemukan telur cacing atau pun oosit di dalamnya.

Prevalensi infeksi dihitung dengan cara membagi jumlah sampel yang Positif terinfeksi parasit dengan total jumlah sampel gang diperiksa, kemudian dikalikan 100 %. Data hasil pemeriksaan selanjutnya dianalisis secara deskriptif.

Interpretasi Hasil Pemeriksaan :

  • Identifikasi positif terdapat telur cacing bila diamati dari morfologi yang nampak pada pemeriksaan m
  • Penghitungan telur cacing bertujuan untuk menentukan tingkat prevalensi parasit cacing dalam kasus ringan, sedang ataupun b
  • Telur Fasciola Sp berwarna kuning emas, sedangkan telur Paramphistomum Sp berwarna kebiruan

Hitung Tpg (Telur Per Gram) feses setiap jenis telur cacing:

Analisa Data

Jenis, jumlah parasit dari hasilp pemeriksaan sampel feses dicatat. Data prevalensi dan intensitas dianalisa secara deskriptif berdasarkan rumus berikut :

       Jumlah Sampel Feses

                                 Yang Positif Terinfeksi Parasit

Prevalensi  =                                                                    X 100 %

                             Jumlah Sampel Yang Diperiksa

 

Hasil Kegiatan Dan Rencana Tindak Lanjut

Hasil Kegiatan

Sampel feses yang diambil adalah  feses pada pedet yang menunjukkan gejala kurang sehat seperti nafsu makan berkurang, bulu kusam serta beberapa pedet menunjukkan gejala diare. Hasil surveilans penyakit helminthiasis pada feses pedet menunjukkan bahwa 5 sampel feses positif dari jumlah total sampel 130 sampel, hasil pengujian menunjukkan prevalensi sebesar 0,04 %. Adapun Jenis telur cacing yang ditemukan yaitu jenis cacing golongan trematoda yaitu Fasiola Sp

Prevalensi =     Jumlah Sampel Positif                    X 100 %

5

Jumlah Sampel Keseluruhan

 

130

=                            X 100 %

 

=    0,04 %

 

Adapun Hasil Pengujian Sampel Dapat Dilihat Pada Tabel Berikut:

 

No Asal Sampel Positif Negatif Persentase
1 Puskeswan Talun 2 29  0,015%
2 Puskeswan Wlingi 3 38  0,023%
3 Puskeswan Kesamben 0 23 0,000%
4 Puskeswan Binangun 0 35 0,000%
Jumlah 5 130 0,04%

 

Adanya kasus penyakit parasiter/helminthiasis ini biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain manajemen pemeliharaan, pakan serta kondisi lingkungan kandang. Faktor utama penyakit ini adalah sanitasi serta kondisi lingkungan yang kurang baik. Selain itu faktor internal yang mempengaruhi penyakit cacing ini adalah umur ternak. Hasil identifikasi telur cacing yang ditemukan pada sampel positif. Hasil surveilans helminthiasis dari 130 sampel feses pedet ditemukan telur cacing Trematoda (Fasciola gigantica ) 5 sampel.

Sampel positif Fasiola gigantica ditemukan 0,04% pada sampel feses pedet.  Faciola Spp, hidup di dalam tubuh ternak yang terinfeksi sebagai parasit di dalam saluran empedu. hidup dari cairan empedu, merusak sel-sel epitel, dinding empedu untuk mengisap darah penderita. Secara umum patogenesa dan gejala klinis yang  disebabkan cacing hati (Fasciola sp) tergantung dari derajat infeksi dan lamanya penyakit, serta faktor lain seperti lokasi di dalam induk semang, jumlah cacing yang menginfeksi, invasi telur, larva dan cacing dewasa di dalam jaringan. Pada sapi dan kerbau umumnya bersifat kronis akibat dari infeksi yang berlangsung sedikit demi sedikit. Gejala klinis yang ditimbulkan dapat pula bersifat sub akut yaitu berupa kelemahan, anoreksia, perut kembung dan terasa sakit apabila disentuh. Gejala akut pada sapi berupa gangguan pencernaan yaitu gejala konstipasi yang jelas dengan tinja yang kering dan kadang diare, terjadi pengurusan yang cepat, lemah dan anemia. Kematian mendadak pada kambing dan domba. Gejala kronis berupa penurunan produktivitas dan pertumbuhan yang terhambat pada hewan muda, kelemahan otot berupa gerakan–gerakan yang lamban, nafsu makan menurun, selaput lendir pucat, bengkak diantara rahang bawah (bottle jaw), bulu kering, rontok, kebotakan, hewan lemah dan kurus.

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pencegahan dan pengendalian adalah :

  1. Mencegah serta memberantas penyakit helminthiasis sejak dini dengan cara memberi obat cacing (anthelmintik) pada sapi usia muda/pedet.
  2. Memperhatikan sanitasi kandang dan lingkungan tempat sapi dipelihara. Tindakan yang dapat dilakukan yaitu mengatur drainase kandang dan lingkungan kandang agar tidak lembab, basah, dan terdapat kubangan air, serta membersihkan rumput-rumput disekitar kandang;
  3. Menghindari penggembalaan atau pengambilan rumput di padang rumput yang diberi pupuk kandang yang tidak diketahui

Rencana tindak lanjut

  1. Melaksanakan pengobatan terhadap pedet yang positif terinfeksi penyakit parasiter melalui pemberian obat cacing (anthelmintik).
  2. Melaksanakan pencegahan penyebaran cacing dengan memberikan obat cacing pada ternak/pedet yang berada pada satu lokasi dengan pedet yang positif terinfeksi penyakit parasiter.

 

Kesimpulan dan saran

Kesimpulan dari kegiatan surveilans penyakit parasiter di wilayah puskeswan Talun, Kesamben, Wlingi dan Binangun Kabupaten Blitar adalah sebagai berikut:

  1. Angka prevalensi penyakit parasiter di wilayah puskeswan Talun, Kesamben, Wlingi dan Binangun Kabupaten Blitar adalah sebesar 0,04%.
  2. Hasil pemeriksaan sampel dengan metode uji sedimentasi dari 130 sampel ditemukan telur cacing golongan trematoda yaitu Fasciola sp sebesar 5 sampel.
  3. Hasil pengujian menunjukkan penyakit parasiter yang ditemukan merupakan infeksi tunggal, tidak ditemukan infeksi ganda pada sampel yang diperiksa.

Berdasarkan hasil surveilans yang diperoleh maka beberapa saran yang diberikan adalah sebagai berikut:

  1. Mengadakan kegiatan surveilans penyakit parasiter secara rutin pada periode mendatang, dengan lokasi dan jumlah sampel yang lebih banyak sehingga bisa mewakili kondisi lapangan di seluruh wilayah puskeswan yang ada di Kabupaten Blitar.
  2. Melakukan pemeriksaan sampel dengan berbagai metode pemeriksaan (natif, sedimentasi, apung) sehingga diperoleh hasil yang lebih baik.
  3. Edukasi/pembinaan terhadap peternak tentang perlunya pencegahan dan pemberantasan kasus penyakit parasiter sejak dini.
  4. Menambah anggaran sehingga bisa mengakomodir penambahan lokasi dan target sampel yang akan diuji, sehingga bisa mewakili semua wilayah puskeswan di Kabupaten Blitar.