WASPADA PENYAKIT LUMPY SKIN DISEASE “LSD” DISNAKKAN KAB. BLITAR LAKUKAN SOSIALISASI DAN KIE
Oleh : Andar Yuliani1
Blitar, Lumpy Skin Disease (LSD) adalah penyakit kulit infeksius yang disebabkan oleh Lumpy Skin Disease Virus (LSDV) yang merupakan virus bermateri genetik DNA dari genus Capripoxvirus dan famili Poxviridae. Virus ini umumnya menyerang hewan sapi dan kerbau. Penyakit ini awal terdeteksi di Indonesia yaitu di Provinsi Riau dengan di keluarkannya Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 242/KPTS/PK.320/M/3/2022 yang menyatakan bahwa Provinsi Riau telah ditetapkan sebagai Daerah Wabah Penyakit Kulit Berbenjol (Lumpy Skin Disease (LSD). Penyakit ini sedikit terlupakan dengan munculnya wabah Penyakit Mulut Dan Kuku dimana penyebaran PMK sangat masif dan cepat.
Penyakit LSD bukan penyakit zoonosis atau tidak menular kepada manusia, namun LSD dapat menimbulkan kerugian yang besar. Kerugian yang ditimbulkan berupa kehilangan berat badan, karena hewan tidak bernafsu makan, kehilangan produksi susu, mandul pada sapi jantan dan betina, keguguran dan kerusakan pada kulit.
Gejala klinis sapi yang terserang LSD menunjukkan demam, timbul benjolan-benjolan pada kulit dengan batas yang jelas, sehingga penyakit ini bisa juga dinamai penyakit kulit benjol, keropeng pada hidung dan rongga mulut dan pembengkakan pada kelenjar pertahanan.
Untuk mencegah penyebaran LSD di wilayah Kabupaten Blitar, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) melakukan sosialisasi dan KIE bersamaan dengan sosialisasi terkait penyakit Mulut dan Kuku (PMK), penyebaran liflet/brosur entang penyakit LSD serta pemasangan banner- banner tentang LSD di tempat umum seperti lokasi Pasar Hewan Terpadu (PHT) baik di PHT di Srengat maupun PHT di Wlingi. Adapun penularan penyakit LSD yaitu dari satu hewan ke hewan lain melalui beberapa jalur, yaitu
- Ditularkan oleh vektor penghisap darah, seperti nyamuk, caplak dan lalat
- Kontak langsung antara hewan sakit dan hewan yang sehat
- Penularan dari induk yang sakit kepada anak di dalam kandungan dan melalui air susu
- Melalui jarum suntik yang tidak steril dan digunakan berulang.
- Pakan dan air minum yang tercemar ludah hewan yang terinfeksi.
Perpindahan / lalu lintas hewan ke daerah lain sangat mempengaruhi penyebaran penyakit ke wilayah yang lebih luas. Lebih dari 45% kelompok ternak dapat terinfeksi dengan tingkat kematian mencapai 10% (Naipospos, 2021).
Kewaspadaan yang dapat dilakukan adalah :
- Mengenali dan mengenalkan penyakit LSD kepada masyarakat, terutama kepada peternak.
- Melaporkan bila menemukan penyakit dengang gejala seperti LSD.
- Mencegah masuknya penyakit dengan mengawasi lebih teliti lalu lintas ternak, hewan dan bahan pangan asal hewan dari luar negeri maupun antar wilayah di Republik Indonesia.
- Menerapkan biosekuriti secara disiplin di peternakan
- Meningkatkan manajemen peternakan
- Menjaga kondisi tubuh ternak agar tetap sehat dengan mencukupi kebutuhan pakan dan menyediakan kandang yang nyaman bagi ternak.
- Menjaga kebersihan kandang dan lingkungannya, membersihkan sampah dan kotoran ternak setiap hari agar tidak menjadi sarang serangga penghisap darah, seperti nyamuk, caplak dan lalat karena serangga merupakan salah satu vektor yang menularkan penyakit LSD.
- Menjaga kandang dalam kondisi bersih, kering dan hangat.
Melakukan penyemprotan (spraying) kandang dengan anti serangga dan merendam ternak (dipping) dalam larutan insektisida secara berkala