INTEGRASI STRATEGI RANTAI PASOK PETERNAKAN SEBAGAI BAGIAN DARI EKONOMI KREATIF DAN INDUSTRI KREATIF DI INDONESIA : Literature Review
D Prasetyani et al 2021 IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 902 012051
OP Conference Series: Earth and Environmental Science
D Prasetyani, D T Ardianto and A A Firdaus
Master of Economics and Development Studies, Faculty of Economics and Business, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia
Diterjemahkan Oleh : Agus Alvianto, S.Pt.
Pengawas Bibit Ternah Ahli Pertama
Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Blitar
RINGKASAN
Rendahnya kapasitas produksi dan cara bertani tradisional yang dipraktikkan di Indonesia mengakibatkan Indonesia bergantung pada impor untuk memenuhi permintaan daging, susu, telur, bahkan kulit masih belum bisa sepenuhnya dipasok dari produksi nasional. Strategi rantai pasok peternakan seperti penerapan ekonomi kreatif dan industri kreatif diperlukan untuk mengatasi kesenjangan ketergantungan pada bahan baku impor. Tantangan di Indonesia adalah kurangnya teknologi & pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ekonomi kreatif dan industri kreatif dalam meningkatkan rantai pasok peternakan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode konseptual dari studi literatur. Saat ini, ekonomi kreatif dan industri kreatif masih relatif pada level UKM. Masalah yang berulang menunjukkan lemahnya pengelolaan teknologi dan pengetahuan. Berdasarkan hasil studi literatur, ekonomi kreatif dan industri kreatif dapat meningkatkan pasokan ternak di Indonesia. Semoga penelitian tentang strategi ekonomi kreatif dan industri kreatif tidak hanya menjadi tren tetapi juga berkelanjutan di masa depan.
- Latar Belakang
Produk peternakan Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, sebagian besar masih bergantung pada impor. Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini bisnis peternakan di Indonesia masih didominasi oleh peternakan rakyat/tradisional dengan kapasitas produksi rendah. Kapasitas produksi yang rendah juga dipengaruhi oleh metode pertanian tradisional [1,2]. Berdasarkan produksi ternak di Indonesia, pertumbuhannya adalah fokus pada industri makanan, industri pengolahan kulit, dan penunjang pakan. Industri makanan yang berkembang adalah pengolahan daging dan pengolahan susu. Industri hilir makanan yang menggunakan produk susu dan telur juga berkembang pesat, misalnya industri biskuit. Industri kulit telah berkembang dan mulai berkembang dengan baik. Sementara itu, industri pakan dalam negeri yang sebagian besar dimotori oleh perusahaan multinasional terus tumbuh di Indonesia.
Sapi potong merupakan salah satu sektor pertanian yang potensial di Indonesia, namun belum banyak masyarakat yang terjun ke sektor usaha [3]. Oleh karena itu, banyak program pembangunan yang dicanangkan oleh Pemerintah Aceh, termasuk membina, memantau, dan mengevaluasi sistem pembibitan dan model perdagangan yang berdampak pada peningkatan keuntungan usaha ternak sapi. Saat ini populasi sapi potong di Indonesia dari tahun 2014 hingga 2020 menunjukkan grafik yang cenderung stagnan. Pada tahun 2014 populasi sapi potong di Indonesia sebanyak 14,7 juta ekor dan terus tumbuh positif mencapai 17,1 juta ekor pada tahun 2019, namun diprediksi akan mengalami penurunan sebesar 1,76 % pada tahun 2020 [4]. Selain itu, sistem peternakan sapi potong di Indonesia masih bersifat tradisional dan mengakibatkan rendahnya pendapatan ekonomi peternak.

Rantai pasok produk peternakan secara teknis meliputi petani, pemasar yang memasok produk ke pengolah/produsen makanan, grosir, pengecer, dan konsumen. Namun, jalur rantai pasok yang tepat untuk menciptakan produk peternakan bergantung pada karakteristik produk, ukuran, dan kekuatan pasar dari anggota rantai pasok [6]. Sebagian besar industri produk peternakan yang berpartisipasi dalam rantai pasok peternakan terdiri dari usaha kecil dan menengah (UKM) [7]. Peran UKM dapat memberikan kesempatan kerja tetapi perlu memastikan keseimbangan regional dengan membawa industrialisasi ke pedesaan dan daerah tertinggal. Permasalahan yang terjadi di lapangan adalah UKM masih mempraktikkan cara tradisional dalam hal produksi, pemasaran, dan distribusi. Literasi digital diperlukan untuk membantu permasalahan UKM dengan peningkatan teknologi digital dan perancangan/restrukturisasi. Diperlukan strategi yang tepat untuk memaksimalkan kinerja UKM dalam meningkatkan produksinya.
Ekonomi kreatif dan industri kreatif merupakan strategi rantai pasok peternakan untuk mengatasi ketergantungan bahan baku impor dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan dari ini kegiatan adalah memberikan informasi yang dapat dilaksanakan oleh pelaku industri berbasis peternakan, pelaku usaha peternakan, dan pembuat kebijakan industri dan peternakan.
- Tinjauan Pustaka
Ekonomi kreatif memiliki potensi untuk mengenali relevansi modal manusia dalam mengintegrasikan tujuan dan peluang sosial ekonomi berbasis kewirausahaan kreatif [8]. Sektor kreatif mendukung kehadiran teknologi di perusahaan dengan mengembangkan input kreatif di bidang yang berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan [9]. Ekonomi kreatif terintegrasi di semua industri daripada sektor yang terpisah. Ini tidak terbatas pada industri kreatif inti dan mendorong pertumbuhan yang didorong oleh inovasi, tetapi pekerja kreatif tertanam di semua sektor ekonomi dan bertanggung jawab atas penciptaan dan adopsi produk baru. Sementara banyak orang adalah spesialis inti atau kreatif yang bekerja di posisi administratif, dukungan atau manajerial di industri kreatif, yang lain bekerja di posisi kreatif yang tertanam di sektor non-kreatif. [10] berpendapat bahwa profesional dan sektor kreatif berkontribusi pada industri manufaktur dan peternakan, misalnya, dengan pemikiran kreatif, inovasi, solusi baru, instrumen untuk berjejaring, penelitian interdisipliner, perspektif alternatif, metode kerja, dan wawasan baru.
Fleischman et al [11] menunjukkan bahwa industri kreatif mendorong pertumbuhan ekonomi dengan metodologi inovasi mereka, co-creation berdasarkan keterlibatan aktif, dalam sistem penciptaan nilai akan mendapatkan keuntungan dari produk, layanan, atau proses dan pemikiran desain, yang berfokus pada membangun empati, pembelajaran cepat, prototipe cepat, dan iterasi solusi melalui umpan balik pengguna. Kreasi dan pemikiran desain memiliki mendekati inovasi dari perspektif yang berpusat pada manusia, melahirkan model bisnis yang mengganggu dan menguntungkan, dan menyaring ide-ide mereka di sektor lain di daerah perkotaan dan pedesaan.
- Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan model rantai pasok dan literature review dengan pendekatan analisis SWOT. Pencarian literatur dilakukan dengan browsing dengan mesin pencari (google). Topik yang dicari terkait dengan ekonomi kreatif, rantai pasok, UKM dan pihak terkait pemberdayaan industri kreatif. Memasok analisis rantai digunakan untuk mengidentifikasi keterkaitan semua pihak yang terlibat dalam input, proses, implementasi, pemasaran dan mekanisme lain dari industri peternakan di Indonesia. Selain itu, Analisis SWOT membandingkan faktor eksternal (peluang dan ancaman) dan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) yang mempengaruhi industri peternakan Indonesia.
- Hasil dan Pembahasan
4.1. Strategi ekonomi kreatif untuk meningkatkan rantai pasok ternak
Menurut Yesus [9], di industri 4.0 dan era baru globalisasi, konsumen semakin terinformasi tentang sistem pangan dan tertarik pada produksi berkelanjutan, kesejahteraan hewan, perubahan iklim, limbah makanan, dan gaya hidup terkait dengan peningkatan pengetahuan dan pendidikan kesehatan gizi. Tren yang muncul dalam sistem peternakan ini terkait dengan transisi menuju ekonomi kreatif pasca-industri, di mana pemahaman tentang teknologi peternakan, pengetahuan pekerja industri peternakan dan kreativitas berbasis kreativitas, serta fleksibilitas proses produksi merupakan hal mendasar [12]. Perkembangan Teknologi Informasi telah mengubah lingkungan bisnis secara drastis. Penggunaan internet baik untuk pemasaran produk maupun pengembangan jaringan dalam beberapa dekade terakhir berada di luar konsep ekonomi klasik yang menyatakan bahwa kepemilikan faktor produksi merupakan kunci keberhasilan bisnis.
Program internet-Ternak juga melibatkan beberapa program pemerintah seperti program penjaminan, melalui asuransi, yang bertujuan untuk mempermudah pengawasan. Sapi harus lulus uji SKKH, oleh karena itu kandang sapi yang dibakukan oleh pelayanan peternakan dan lebih bernuansa islami yang lebih mengarah pada sharing economy yaitu sikap partisipasi dalam kegiatan ekonomi yang menciptakan nilai, kemerdekaan dan kemakmuran. Modal yang disimpan dalam bentuk dana mentah dapat dikumpulkan dan digunakan untuk pengembangan sapi potong sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan. Internet-Ternak, penyedia peer to peer lending (Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi). Keuntungan membesarkan peternakan melalui internet-Ternak adalah peternak menjadi lebih berpengalaman (bersertifikat), jaringan distribusi menjadi lebih terintegrasi, peternakan lebih sehat dan lebih menguntungkan : Pengendalian Risiko Pola Bagi Hasil (Asuransi Ternak). Pengelolaan usaha dilakukan oleh PT MEK sebagai pihak yang menggunakan uang tersebut untuk membeli sapi potong dan sapi perah, menyelenggarakan uji SKKH, membayar premi asuransi dan membeli konsentrat pakan dengan investasi dari investor.
4.2. Strategi industri kreatif untuk meningkatkan rantai pasok ternak
Subandi dkk. [1] menyatakan bahwa dalam analisis Diagram Industri Pengolahan Ternak, produk ternak utama di dunia dihasilkan dari dua kelompok ternak, yaitu Ruminansia dan Unggas. Diagram industri yang dibangun dari kedua kelompok hewan ini telah mampu merepresentasikan industri peternakan pada umumnya dimana produk turunannya meliputi makanan, minuman, sandang, kerajinan, pangan fungsional, dan produk lainnya. Gambar 3 menunjukkan diagram industri besar ternak ruminansia, yaitu sapi. Bagian hulu industri peternakan adalah rumah potong hewan, sedangkan industri hulu susu dipasteurisasi. Namun, dalam prakteknya, banyak industri hulu yang terintegrasi dengan industri pengolahannya. Produk industri komersial utama ternak ruminansia besar yang diperdagangkan adalah daging, susu dan kulit.

Populasi dunia meningkat, dan produksi produk ternak akan tumbuh 60-70% selama beberapa tahun ke depan. Namun, negara-negara dengan sektor peternakan yang lebih relevan belum mengembangkan potensi inovasi mereka secara ekspresif. Dalam transisi menuju digitalisasi peternakan, tenaga kerja harus bercirikan mobilitas, fleksibilitas, dan kompetensi digital yang cukup tinggi, yang merupakan kompetensi profesional kreatif. Informasi memiliki dampak penting terhadap distribusi, pertukaran dan konsumsi barang, serta munculnya kemitraan dan hubungan antar peserta dalam hubungan ekonomi [1]. Nilai ternak dapat ditingkatkan dengan integrasi sumber daya alam dengan teknologi inovatif yang memungkinkan produk baru bernilai tinggi dan pasar baru dapat dicari dan hubungan antara petani dan industri pengolahan, distribusi dan jasa. Untuk meningkatkan nilai tambah produk peternakan, perlu dibangun basis distribusi yang stabil untuk menyediakan produk kepada konsumen dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan dalam proses penyambungan antar industri. Peternakan cerdas yang terintegrasi dengan informasi dan komunikasi canggih, bioteknologi, teknologi lingkungan, dan nanoteknologi berubah menjadi industri terintegrasi yang bernilai tambah tinggi, karena teknologi tersebut merupakan elemen penting dalam pengembangan industri kreatif yang berkontribusi pada produksi yang tepat, distribusi yang efisien, dan manajemen berimang. Integrasi peternakan dengan teknologi informasi dan komunikasi sangat penting untuk mewujudkan ekonomi kreatif sebagai alternatif mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja terkait penuaan, perubahan kondisi iklim, struktur distribusi yang lebih kompleks, dan selera konsumen yang berubah dengan cepat.
4.3. Kontribusi UKM untuk meningkatkan rantai pasok ternak
Menurut [15], masalah proses produksi berdampak pada kecilnya omset yang diperoleh. Dari aspek produksi dan sumber daya manusia, usaha kecil (UKM) cenderung lebih banyak bermasalah daripada usaha besar (UB). Misalnya, usaha kecil yang tidak memiliki penelitian dan pengembangan, rencana bisnis dan evaluasi bisnis. Sedangkan untuk usaha skala besar, permasalahannya hanya pada pengadaan bahan baku dan permasalahan dalam pengelolaan tenaga kerja. Hal ini dikarenakan volume produksi yang dimiliki oleh pelaku usaha besar cenderung lebih banyak sehingga membutuhkan jumlah faktor produksi yang lebih besar. Kondisi demikian mengindikasikan sulitnya UKM untuk melakukan efisiensi sehingga daya tahan usahanya rendah. Skala produksi itu sendiri pada hakikatnya mencerminkan tingkat efisiensi usaha. Artinya semakin besar skala usaha suatu industri maka semakin tinggi tingkat efisiensi usahanya. UKM perlu saling bersinergi untuk menerapkan strategi ekonomi kreatif dan industri kreatif untuk mendorong peningkatan rantai pasok peternakan di Indonesia.
Pemerintah dapat berperan dalam mendorong UKM peternakan dengan menerapkan strategi dengan beberapa cara, antara lain: mengadakan pelatihan pengembangan keterampilan secara masif bagi UKM; menyelenggarakan pendidikan yang berkaitan dengan penerapan pembiayaan pada lembaga keuangan mikro bekerja sama dengan lembaga keuangan daerah; memperluas jaringan kerjasama UKM dengan menyelenggarakan pameran UKM massal; melakukan formasi klaster UKM peternakan dengan memantau perkembangan bisnis UKM; dengan keterampilan UKM pemain yang masih minim, pemerintah bisa mengembangkan website yang berfungsi untuk memasarkan semua UKM produk di Indonesia.
Tabel . Strategi Analisis SWOT untuk Meningkatkan Rantai Pasok Peternakan Indonesia

ANALISIS SWOT
Kekuatan
- Pengalaman peternak cukup baik
- Pendidikan yang memadai bagi peternak
- Ketersediaan lahan untuk ternak
- Lokasi usaha peternakan mudah dijangkau
- Ketersediaan berlimpah produk ternak
Kelemahan
- Skala masih rendah
- Tenaga kerja masih terbatas
- Kepemilikan ternak masih rendah
- Penggunaan lahan dan kapasitas produksi belum optimal
- Kenaikan harga yang tidak stabil
Peluang
- Meningkatnya permintaan daging sapi
- Program swasembada
- Penggunaan/pemanfaatan teknologi
Ancaman
- Fluktuasi harga pakan
- Perubahan penggunaan lahan
- Tidak ada upaya kemitraan
- Pola perawatan tradisional
Strategi (S-O)
- Peningkatan jumlah ternak di Indonesia
- Menjaga hubungan baik dengan pihak ketiga
- Memaksimalkan program swasembada
Strategi (S-T)
- Sediakan tempat pakan baru di gudang
- Merubah sistem pengobatan dari model tradisional menjadi modern
Strategi (W-O)
- Meningkatkan skala bisnis dengan memanfaatkan layanan pihak ketiga
- Pelatihan sistem komunitas pertanian
Strategi (W-T)
- Pengolahan limbah pertanian menjadi pakan ternak yang bergizi tinggi
- Memaksimalkan sisa lahan menjadi lebih produktif
- KESIMPULAN
Kapasitas produksi yang rendah ditambah dengan cara bertani tradisional menyebabkan hampir semua komoditas peternakan utama di Indonesia menutupi defisitnya melalui impor. Strategi rantai pasok ternak seperti sebagai penerapan ekonomi kreatif dan industri kreatif diperlukan untuk mengatasi kesenjangan, ketergantungan bahan baku impor, tantangan yang dihadapi Indonesia adalah minimnya teknologi & pengetahuan. Saat ini, ekonomi kreatif dan industri kreatif masih relatif di tingkat UKM. Berdasarkan hasil studi literatur menunjukkan bahwa ekonomi kreatif dan industri kreatif dapat meningkatkan pasokan ternak di Indonesia. Penggunaan platform i-Ternak terbukti memudahkan peternak dalam meningkatkan rantai pasok ternak. Jelas bahwa pasokan industri ternak yang ada Sistem rantai di Indonesia perlu diperkuat untuk mendukung perkembangan produksi dan populasi sapi di masa mendatang.
TINJAUAN PUSTAKA
[1] Subandi K, Hermawan H and Aryani A S 2019 J. Appl. Sci. 2 21–8
[2] Suresti A, Wati R, Dinata U G S and Hasan A 2020 Am. J. Anim. Vet. Sci. 15 198–205 [3] Sirajuddin S, Asnawi A, Rasyid I and Mangalizu A 2016 Adv. Environ. Biol. 10 171–5 [4] BPS 2019 Output Tabel Dinamis (Jakarta: Badan Pusat Statistik)
[5] Mattevi M and Jones J A 2016 Food Control 64 120–7
[6] Boute R, Dierdonck R V and Vereecke A 2011 International Journal of Logistics Research and Applications 14 297–315
[7] Godde C M, Mason-D’Croz D, Mayberry D E, Thornton P K and Herrero M 2021 Glob. Food Sec. 28 100488
[8] Zhuo N and Ji C 2019 Int. J. Environ. Res. Public Health 16 3241
[9] de Jesus D S V 2020 Int. Relations Dipl. 8 392–397
[10] Rodgers J 2015 Creat. Ind. J. 8 3–23
[11] Fleischmann K, Daniel R and Welters R 2017 Creat. Ind. J. 10 119–38
[12] Douglas W. Arner, Janos Barberis R P B 2008 Grou 23529 1–45
[13] Yuzaria D, Basyar B and Khairati R 2020 Am. J. Anim. Vet. Sci. 15 48–58
[14] Joon-Kee P 2014 Strategy for Creative Economy, and Vitality in Agriculture and Rural District (Seoul: Korea Rural Economic Institute)
[15] Muhfiatun M and Rudi Nugraha M 2019 J. Pemberdaya. Masy. Media Pemikir. dan Dakwah Pembang. 2 357–82
[16] Mizan Us K, Yaman M A and Fradinata E 2021 J. Kedokt. Hewan – Indones. J. Vet. Sci. 15 53–8