AMATI, AWASI DAN PAHAMI PERUBAHAN PADA BUDIDAYA IKAN LELE ( STUDI KASUS KEMATIAN IKAN KARENA PENYAKIT KUNING (JAUNDICE))

Penulis :

Irawan Hardiatmono, S.Pi (1)

NIP. 197305052009011011

(1) Pengawas Perikanan Ahli Muda Bidang Pembudidayaan Ikan

Arif Muttaqin, S.Pi (2)

NIP. 19820925 200901 1 008

(2) Pengendali Hama dan Penyakit Ikan Ahli Muda

Amati, awasi dan pahami perubahan perilaku ikan yang kita pelihara, karena ikan lele yang sehat akan bergerak lincah dan nafsu makan tinggi sedangkan ikan sakit akan malas bergerak dan nafsu makan turun, kemudian diikuti gejala klinis sesuai jenis penyakit yang menginfeksi.

Amati, awasi dan pahami asupan pakan yang diberikan pada ikan lele yang kita pelihara, karena berpengaruh bagi pertumbuhan, perkembangan dan kesehatannya. Komposisi pakan ikan lele harus memiliki kandungan kadar air <12 %, kadar abu <13 %, kadar protein >30 %, kadar lemak >5 %, kadar serat kasar <6 %, non protein nitrogen <0,2 %, dengan pemberian pakan dihitung 3-6 % dari bobot ikan lele (SNI : 01-4087-2006).

Amati, awasi dan pahami terhadap perubahan air kolam dengan selalu melihat nilai pH, DO, amoniak, nitrit, nitrat dan kecerahan karena air sebagai media hidup bagi ikan. Standar yang ditentukan agar ikan lele dapat hidup secara optimal adalah suhu 25°C – 30°C, pH 6,5 – 8,6, DO > 4, amoniak < 0,01, kecerahan >50 cm (SNI : 01- 6484.4 – 2000).

Amati, awasi dan pahami perubahan cuaca karena berpengaruh terhadap ikan dan air kolam, suhu berpengaruh pada laju metabolik, konsentrasi O2 terlarut, respon kekebalan tubuh ikan dan pertumbuhan bakteri. Curah hujan yang tinggi akan berpengaruh pada pH air kolam sehingga berdampak pada ikan lele yang kita pelihara.

Kasus ikan lele yang terkena penyakit kuning/ jaundice di pembudidaya ikan lele Bapak Nurcholis Desa Jingglong Kecamatan Sutojayan, memiliki gejala awal ikan lesu kemudian bagian tubuh ikan lele berwarna kuning demikian juga organ dalamnya, jika dibiarkan maka akan menyebabkan kematian. Penyakit ini digolongkan  menjadi tiga yaitu:

  1. Jaundice prehepatis, sel darah merah yang rusak terlalu banyak sehingga hati tidak mampu mendegradasinya.
  2. Jaundice hepatis, hati mengalami kerusakan sehingga kehilangan fungsi dalam mendegradasi sel darah merah.
  3. Jaundice posthepatis, adanya sumbatan empedu.

Secara umum adalah kegagalan fungsi hati menguraikan billirubin sehingga menyebabkan warna kuning tidak hanya di kulit ikan (permukaan) tapi juga sampai ke dagingnya. Beberapa penyebabnya adalah malnutrisi (kualitas pakan/ bahan pakan yang buruk) atau kesalahan dalam penyimpanan pakan (disimpan di tempat lembab atau kadaluwarsa, pemberian pakan alternatif yang berlebihan atau pakan yang tidak sesuai peruntukannya seperti ikan yang diberi pakan ayam mati/ tiren).

Usaha pencegahan yang dilakukan pada cuaca ekstrem seperti sekarang ini adalah penambahan multivitamin khususnya vitamin D. Ikan bersifat poikiloterm yaitu hewan yang mengatur suhu tubuh sama dengan suhu lingkungannya, maka penting untuk menjaga agar suhu kolam stabil, karena dengan perubahan suhu yang drastis akan menguras seluruh cadangan makanan digunakan untuk menyesuaikan dengan suhu luar, sehingga tubuhnya menjadi lemah dan stres yang diikuti menurunnya daya cerna dan daya tahan tubuh, itulah awal dari penyakit mudah masuk. Upayakan mengatur pemberian pakan dengan melihat nafsu makan ikan lele, jika malas makan kita harus mengurangi porsinya agar tidak menjadi penyakit yang disebabkan oleh makanan tidak tercerna. Menambahkan probiotik, vitamin dan mineral, hindari pakan ayam mati dan ikan runcah, dan sering ganti air.

Jika sudah terkena penyakit ini maka penanganannya adalah dengan mengganti air kolam secara berkala dan kontinyu, memberikan dolomit ¼ kg/m³ untuk menstabilkan pH air, pemberian multivitamin terutama vitamin D, dan selama perlakuan ikan dipuasakan sampai ikan sehat kembali.

Semoga bermanfaat.

Komentar