PELARANGAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SEBAGAI IMBUHAN PAKAN TERNAK

Senin, 21 Desember 2020

Oleh:

drh Ria Purwitosari

Pelarangan penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan mulai akhir tahun 2018 di Indonesia menimbulkan polemik di kalangan peternak. Bagaimana tidak?? AGP (Antibiotic Growth Promotor) telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pemeliharaan ternak unggas. Penggunaan AGP dalam dosis rendah diyakini dapat meningkatkan produktivitas dan performa hewan (Astuti, 2019).

Antibiotik merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme, dalam konsentrasi kecil mempunyai kemampuan menghambat atau membunuh mikroorganisme lain. Antibiotik juga bersifat toksik secara selektif pada bakteri, namun tidak toksik pada sel inang (host). Antibiotik sering diterjemahkan oleh masyarakat sebagai antibakteri (Riady, 2018).

Mekanisme kerja AGP yaitu menekan perkembangan mikroorganisme yang merugikan di dalam saluran pencernaan hewan sehingga absorbsi nutrisi lebih efisien (National Office of Animal Health, 2001). Antibiotik dipercaya dapat menekan pertumbuhan bakteri-bakteri patogen yang berakibat meningkatnya populasi bakteri menguntungkan dan merangsang terbentuknya senyawa-senyawa antimikroba, asam lemak bebas dan zat-zat asam sehingga terciptanya lingkungan kurang nyaman bagi pertumbuhan bakteri patogen.

Laboratory Animal Testing Medion melakukan percobaan terhadap ayam broiler komersil dengan perlakuan pemberian pakan dengan dan tanpa AGP (antibiotik + koksidiostat). Hasil trial menunjukan kelompok ayam yang diberi pakan non AGP mulai awal sampai akhir pemeliharaan konsumsi pakannya lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan AGP. Peningkatan berat badan yang dihasilkan mulai minggu ke-3 sampai akhir pun lebih rendah sehingga nilai feed conversion ratio (FCR) lebih tinggi pada kelompok non AGP dibandingkan kelompok AGP, sementara untuk bobot ayam hampir sama antara kedua kelompok tersebut.

Sumber: Anonymous, 2020

Kenapa pemerintah mulai melarang penggunaan AGP?? Pemakaian AGP telah terbukti secara ilmiah dapat menimbulkan resistensi antibiotik untuk ternak dan menghasilkan residu antibiotik yang berbahaya jika dikonsumsi manusia. Beberapa negara telah melarang penggunaan AGP dengan alasan keamanan pangan dan lingkungan. Uni Eropa telah melarang penggunaan AGP sejak 2006 diikuti dengan Amerika (2017) dan negara-negara lain.

Indonesia sendiri telah melarang penggunaan AGP sejak 2018 dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 14/PERMENTAN/PK. 350/5/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan. Pasal 17 dalam PERMENTAN tersebut menjelaskan  percampuran obat hewan dalam pakan untuk terapi sesuai dengan petunjuk dan di bawah pengawasan dokter hewan. Kebijakan larangan tersebut mengacu pada UU No. 41/2014 Jo. UU No 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan (Anonymous, 2018).

Penggunaan antibiotik secara terus menerus dalam pakan ternyata berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Residu antibiotik pada jaringan otot ayam atau telur, membuat manusia mengalami resistensi (kebal) pada beberapa jenis antibiotik. Efek berbahaya penggunaan AGP pada hewan ternak terhadap kesehatan manusia saat ini terutama akibat timbulnya koloni bakteria resisten antibiotika. Penggunaan AGP pada hewan ternak akan berdampak seleksi terhadap bakteria yang berakibat timbulnya kelompok bakteria resisten antibiotika yang bisa menyebar ke manusia, dan selanjutnya menimbulkan masalah resistensi di manusia. Resistensi yang timbul pada banyak antibiotika, maka akan semakin sedikit pilihan antibiotika yang dapat dipakai untuk mengatasi infeksi yang berat dan mengancam nyawa. Saat ini sudah banyak muncul bakteria yang kebal terhadap sebagian besar atau bahkan semua jenis antibiotika yang ada di pasaran. Hal ini selanjutnya akan membawa dampak besar bagi manusia yang membutuhkan antibiotika untuk mengatasi penyakit infeksi (Anonymous, 2018).

Sumber: Anonymous, 2020

Larangan penggunaan AGP membuat seluruh stakeholder peternakan berupaya mencari alternatif pengganti AGP yang sepadan. Hal ini bertujuan agar produktivitas ayam tetap optimal. Beberapa alternatif pilihan diantaranya sebagai berikut:

  • Asam organik (acidifier) merupakan bahan kimia organik yang memiliki pH di bawah 7. Asam organik pun dapat merangsang produksi enzim endogen untuk membantu meningkatkan kecernaan nutrisi pakan dan menjaga keberadaan mikroba pencernaan yang bermanfaat bagi tubuh inang.
  • Probiotik merupakan mikroba hidup yang jika diberikan dalam jumlah yang cukup akan memberikan efek menguntungkan bagi kesehatan inang (FAO/WHO, 2002). Probiotik pada dasarnya merupakan bakteri baik yang diproduksi secara komersial.
  • Enzim. Tubuh ayam sendiri sebenarnya dapat memproduksi enzim, yaitu katalisator yang dapat mempercepat reaksi pemecahan senyawa-senyawa kimia kompleks menjadi sederhana.
  • Minyak esensial. Penambahan minyak esensial pada pakan dapat meningkatkan nafsu makan ayam, meningkatkan produksi enzim-enzim pencernaan serta berfungsi sebagai antioksidan. Ada beberapa minyak esensial yang terdapat pada tanaman yang dapat ditambahkan pada pakan ayam, misalnya eugenol dari cengkeh, allicin dari bawang putih dan menthol dari peppermint. (Anonymous, 2020).

Pemeliharaan ternak sebenarnya banyak faktor yang bisa menjadi perhatian, tidak hanya mengacu pada bahan yang terkandung dalam pakan. Selain nutrisi, manajemen dan kesehatan ternak itu sendiri harus mendapat perhatian. Manajemen sendiri meliputi kepadatan kandang, manajemen pakan, serta ventilasi (suhu dan kelembapan). Kesehatan terdiri dari peningkatan kebersihan dan sanitasi, jadwal vaksinasi rutin serta penggunaan antibiotik yang bijaksana.

 

Daftar Pustaka

Anonymous. 2018. Efek Penggunaan Antibiotic Growth Promotor pada Kesehatan Manusia. https://fk.unair.ac.id/efek-penggunaan-antibiotic-growth-promoter-pada-kesehatan-manusia. Fakultas Kedokteran. Universitas Airlangga, diakses pada tanggal 3 Desember 2020.

Anonymous. 2018. Ini Alasan Pemerintah Larang Penggunaan AGP. https://ditjenpkh.pertanian.go.id/ini-alasan-pemerintah-larang-penggunaan-agp. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kementerian Pertanian, diakses pada tanggal 3 Desember 2020.

Anonymous. 2020. Mencari Alternatif Pengganti AGP. https://www.medion.co.id/id/mencari-alternatif-pengganti-agp. Medion Bandung, diakses pada tanggal 2 Desember 2020.

Astuti, Indriyani. 2019. Probiotik Alami Pengganti Antibiotik pada Unggas Mulai Dirilik. https://mediaindonesia.com/read/detail/249798-probiotik-alami-pengganti-.antibiotik-pada-unggas-mulai-dirilik, diakses pada tanggal 1 Desember 2020.

Riady, Erliana. 2018. Ini Bahaya Pakan Ternak AGP Bagi Kesehatan Tubuh Manusia. https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3851993/ini-bahaya-pakan-ternak-agp-bagi-kesehatan-tubuh-manusia. detiknews. Diakses pada tanggal 2 Desember 2020.

 

 

 

SITUASI PENYAKIT BRUCELLOSIS PADA SAPI PERAH PETERNAKAN RAKYAT DI KABUPATEN BLITAR Dukung Operasi Pasar Disnakkan Kabupaten Blitar Siapkan 2.000 Paket Telur dan Produk Ikan PENTINGNYA VAKSINASI PADA HEWAN PELIHARAAN WASPADAI PENYAKIT BRUCELLOSIS PADA SAPI Kunjungan Kerja Bupati dan Wakil Bupati Blitar Hj. Rini Syarifah, A.Md dan H. Rahmat Santoso, S.H, M.H di Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar
Dinas Peternakan dan Perikanan
Alamat : Jl. Cokroaminoto No.22, Kepanjen Lor, Kec. Kepanjenkidul, Kota Blitar, Jawa Timur 66117
E-mail : | Phone: (0342) 801136