KONDISI PETERNAKAN LAYER, MASIHKAH ADA HARAPAN ?
Oleh :
Tuhu Aneng Pambudi, S.Pt
Peternakan ayam ras petelur (layer) di Kabupaten Blitar merupakan pensuplai kurang lebih 30 % kebutuhan telur nasional. Berdasarkan hasil pendataan ternak tahun 2019 populasi ayam petelur mencapai 21 juta ekor. Para peternak sebagian besar merupakan peternak rakyat dengan skala kecil dan menengah. Peternakan layer di Kabupaten Blitar dapat dikatakan merupakan penopang ekonomi masyarakat. Hal tersebut tidaklah berlebihan, dikarenakan banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada usaha peternakan layer ini.
Peternakan layer merupakan mata pencaharian lebih dari 4000 kepala keluarga, mampu menghidupi ribuan karyawan baik anak kandang, kuli gudang pakan, sopir,kuli angkut. Disamping itu, para penjual telur, penjual pakan, penjual ayam afkiran pun turut mencari penghasilan dari adanya peternakan layer. Peternakan layer juga mampu menampung dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi lulusan pendidikan seperti SMA ataupun SMK peternakan hingga Sarjana Peternakan dan Dokter Hewan.
Pandemi Covid 19 yang terjadi dalam dua tahun terakhir ternyata mampu memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan peternakan layer, bukan hanya di Kabupaten Blitar, namun juga berdampak secara nasional. Menurunnya permintaan telur karena adanya PPKM, dugaan adanya telur HE yang beredar di pasaran, rendahnya harga telur di bawah HPP yang terjadi berbulan-bulan, hingga yang terbaru adalah naiknya harga pakan khususnya konsentrat dan jagung turut menjadikan situasi peternakan layer kelabakan. Sudah terbukti tidak sedikit peternak khususnya peternak rakyat hingga besar yang memilih mengurangi populasinya demi bisa bertahan, bahkan tidak sedikit pula yang sudah menutup usahanya karena sudah tidak kuat lagi menjalankan usahanya dengan kondisi biaya produksi yang lebih besar dari pemasukan yang diterima.
Kondisi yang terjadi saat ini pun juga dinilai belum ideal, harga telur yang berangsur naik ternyata juga terus diikuti dengan naiknya harga pakan khususnya konsentrat, meskipun di sisi yang lain harga jagung turun cukup signifikan. Peternak layer yang ingin mengambil momentum ini dengan segera melakukan replacement dengan memasukkan DOC ataupun pullet juga harus dikejutkan dengan melonjaknya harga DOC dan pullet dipasaran. Bukan hanya sekedar harganya yang naik, barangnya pun cukup sulit didapakan karena pabrik maupun pembibit pullet memang sedikit sekali yang melakukan produksi karena dalam beberapa bulan sebelumnya memang barangnya tidak laku dikarenakan rendahnya harga telur, sehingga mereka memilih untuk membatasi produksi.
Peternak layer dalam situasi seperti saat ini juga dihadapkan pada pilihan untuk tetap melanjutkan usahanya atau menutup total usaha peternakannya dengan melakukan afkir ayamnya secara keseluruhan, mengingat momentum harga afkir yang cukup tinggi. Kalaupun melanjutkan usahanya, peternak juga masih dihantui rasa cemas akan masa depan peternakan layer ini khususnya bagi peternak rakyat yang sistem perkandangan hingga budidayanya masih secara konvensional. Hal tersebut didasarkan pada situasi dalam kurun 5 hingga 6 tahun terakhir dimana kondisi peternakan layer begitu banyak diterpa permasalahan yang terbukti hingga saat ini berdampak pada berkurangnya populasi dan berkurangnya jumlah peternak karena sudah tidak mampu lagi menjalankan usahanya.
Fakta lain menunjukkan bahwa tidak sedikit pula yang pada akhirnya mencari alternatif usaha selain layer, misalkan saja mereka memelihara sapi atau pun kambing maupun budidaya maggot hingga usaha diluar bidang peternakan. Para peternak yang masih bertahan bahkan berusaha untuk kembali pulih dan menaruh harapan pada usaha peternakan layer ini pun juga tidaklah sedikit. Mereka juga semakin solid dengan bergabung di beberapa komunitas ayam petelur maupun koperasi untuk saling memberikan dukungan agar tetap bertahan dalam usaha petenakan layer.
Tentunya banyak sekali harapan yang ingin disampaikan oleh peternak layer khususnya kepada para pemegang kebijakan agar memperhatikan peternakan layer khususnya peternakan rakyat, karena sudah terbukti bahwa adanya peternakan layer ini benar-benar telah menghidupkan ekonomi masyarkat hamper di semua lini khususnya yang ada di Kabupaten Blitar yang cukup terkenal sebagai penghasil telur nasional. Peternak berharap jangan sampai Kabupaten Blitar sebagai penghasil telur nasional tinggalah cerita dimasa anak cucu kita.