PERSEPSI PETERNAK TERHADAP KEMITRAAN BROILER DAN PULLET DALAM MENENTUKAN KEMITRAAN BUDIDAYA AYAM RAS YANG DIIKUTI

Aneng 2

Oleh

Tuhu Aneng Pambudi, S.Pt

Peternakan ayam ras baik pedaging (broiler) maupun petelur (layer) di Kabupaten Blitar masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri di mata peternak. Keduanya sama-sama memerlukan modal yang tidak sedikit agar dapat menjalankan usaha hingga mendapatkan keuntungan sebagaimana yang diharapkan. Bagi peternak yang memiliki modal terbatas dan menginginkan perputaran modal yang cepat akan lebih cenderung memilih budidaya ayam broiler sebagai usahanya, sedangkan peternak yang memiliki modal yang lebih besar serta mampu bersabar lebih lama untuk menikmati hasil budidayanya lebih cenderung memilih budidaya ayam petelur sebagai usahanya.

Modal sebagaimana tersebut diatas memang tidaklah selalu berpengaruh signifikan terhadap keputusan peternak dalam menentukan pilihan usahanya, karena masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi pilihan peternak untuk memilih budidaya ayam pedaging atau petelur sebagai mata pencahariannya, diantaranya adalah : minat peternak itu sendiri, ilmu yang dimiliki, lingkungan, akses dan fasilitas, serta peluang pemasaran dan masih banyak lagi. Disamping itu, peternak juga dapat mempertimbangkan adanya jaringan atau komunitas peternak yang dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak dan beragam, baik itu komunitas peternak ayam petelur, koperasi peternak ayam petelur maupun koperasi peternak ayam pedaging.

Pada budidaya ayam pedaging, sebagian besar peternak tergabung pada kemitraan. Kemitraan inilah yang mengikat para peternak ayam pedaging mulai dari bibit, pakan, vaksin, obat-obatan hingga pemasaran. Adapun terkait manajemen budidaya tentunya juga harus sesuai dengan Standar Operational Procedure (SOP) yang telah ditetapkan oleh pihak inti. Peternak tidak memiliki pilihan kecuali mengikuti kontrak kerjasama yang telah disepakati (sesuai dengan kemitraan masing-masing). Ada pula sebagian kecil peternak yang melakukan budidaya secara mandiri, akan tetapi jumlah populasinya pun tidak banyak, karena sebagian besar terkendala dengan modal serta resiko yang semakin besar jika berusaha mandiri. Hal tersebut dikarenakan fluktuasi harga pasar ayam pedaging yang sangat cepat berubah, sehingga sangat beresiko sukup besar bagi peternak mandiri jika memiliki kapasitas yang besar.

Kondisi harga yang sangat cepat berubah dan kontrak yang dinilai peternak tidak banyak menguntungkan, serta jadwal panen yang terkadang tidak menentu karena melihat kondisi harga pasar, maka tidak sedikit peternak yang akhirnya memutuskan untuk berhenti memelihara ayam pedaging. Disamping itu, pemeliharaan dan penanganan DOC hingga panen selama proses pemeliharaan yang dinilai semakin sulit turut menjadi alasan sebagian peternak memutuskan untuk berhenti. Dalam kondisi seperti itu, para peternak tentunya harus mencari alternatif lain sebagai mata pencahariannya tetapi tetap tidak jauh dari usaha peternakan unggas.

Melihat kondisi tersebut, akhirnya ada sebagian peternak yang akhirnya memutuskan untuk mengikuti kemitraan pembesaran bibit ayam petelur (pullet). Peternak menilai kontrak yang ditawarkan dalam kerjasama cukup menjanjikan dan tidak terlalu besar resiko bagi peternak. Peternak yang memutuskan mengikuti kemitraan penyediaan bibit ayam siap telur ini tentunya harus lebih bersabar bila dibandingkan memelihara ayam ras pedaging yang kurang lebih hanya 35 – 40 hari, mengingat masa pemeliharaan yang cukup panjang dimana pada umumnya pullet akan dipanen saat umur 13 minggu (+/- 3 bulan) hingga 16 minggu (+/- 4 bulan), meskipun ada pula yang sudah mulai di panen pada umur 2 bulan.

Ada beberapa model kontrak kerjasama antara peternak dengan kemitraan, namun pada prinsipnya peternak menilai resiko yang ditimbulkan jika terjadi situasi yang diluar rencana tidaklah terlalu besar. Sistem pemeliharaannya pun dinilai lebih ringan, termasuk pemberian pakannya yang tidak sebanyak ayam pedaging. Bahkan tidak jarang ada peternak yang mengikuti kemitraan ini namun masih sempat melakukan usaha dibidang lain seperti pertanian dan perdagangan.

Adanya peternak yang berpindah dari budidaya ayam pedaging ke budidaya pembesaran ayam petelur dengan jumlah yang tidak sedikit ini tentunya semakin menambah persediaan bibit ayam siap telur (pullet) sehingga peternak ayam petelur yang sudah saatnya melakukan peremajaan (replacement) tidak perlu mencari jauh hingga ke luar kota, karena stok di wilayah Kabupaten Blitar sendiri cukup banyak. Disamping itu, pilihan bagi peternak ayam ras petelur untuk memilih pullet yang berkualitas juga semakin banyak mengingat adanya persaingan diantara kemitraan-kemitraan yang ada untuk berlomba-lomba menghasilkan pullet yang baik sesuai dengan standar. Tentunya terkait harga pun peternak yang akan membeli pullet juga memiliki banyak pilihan bahkan dapat menawar sesuai dengan umur dan kualitasnya. Fakta diatas merupakan gambaran dari kondisi sebagian peternak ayam broiler yang memutuskan untuk berganti memelihara bibit ayam siap telur. Keputusan untuk melakukan budidaya baik ayam ras pedaging maupun petelur tentunya merupakan pilihan dari masing-masing peternak, yang pada intinya adalah kenyamanan dan kepastian dalam berusaha.