PENGAMATAN BIRAHI YANG TEPAT ADALAH KUNCI TERJADINYA KONSEPSI PADA INSEMINASI BUATAN DI SAPI POTONG RAKYAT

Oleh : drh. EKA YANUARTI

Bagi seorang peternak sapi terutama peternak yang memelihara betina produktiv guna untuk  breeding , maka tujuan utamanya adalah membuat indukan betina productive tersebut agar segera bunting dan menghasilkan pedet/ anakan. Dalam praktiknya, tujuan tersebut dapat dicapai dengan melakukan dan memastikan optimalisasi fertilisasi serta angka konsepsi ternak yang dimiliki yakni dengan melakukan deteksi birahi secara akurat. Menjadi tantangan di peternakan rakyat, dimana peternak masih ada yang kurang pengetahuannya tentang deteksi birahi yang tepat, sehingga tidak jarang harus terjadi pengulangan perkawinan (Inseminasi Buatan/IB) oleh petugas. Hal ini yang akan memperpanjang masa calving interval bagi induk, yang otomatis akan memperbanyak biaya pemeliharaan ternak. Idealnya calving interval terjadi kurang lebih 14 bulan.

Beberapa hal yang perlu diketahui dalam sistem reproduksi ternak sapi agar dapat melakukan pengamatan deteksi birahi yang tepat, adalah sebagai berikut, yaitu wajib memahami siklus birahi rata-rata 3 minggu (18-24 hari). Menjelang saat birahi, ada 4 tahap yang dilalui seekor induk atau dara.

Tahap 1. Pro Oestrus (pre-standing heat)

Tahap ini hanya berlangsung 1-2 hari. Pada fase ini, betina berusaha menaiki sapi lain dan akan diam bila dinaiki temannya. Ia menjadi gelisah dan agresif dan mungkin akan menanduk, melenguh dan mulai mengeluarkan lendir bening dari vulvanya.

Tahap 2. Oestrus (Standing Heat)

Hormon estrogen menyebabkan induk atau dara menunjukkan gejala birahi. Induk atau dara yang birahi seringkali melenguh, memperlihatkan kegelisahan, mencoba untuk menaiki teman-temannya dan yang palin penting, ia akan diam bila dinaiki oleh temannya. Biasanya terlihat lendir keluar dari vulva yang tampak membengkak.

Tahap 3. Ovulasi (atau pelepasan sel telur)

Sel telur dilepaskan dari follikel sekitar 24-30 jam sejak awal birahi (standing heat). Ternak harus segera diinseminasi 12-30 jam setelah terjadinya birahi (standing heat).

Tahap 4. Met-Oestrus (pendarahan pasca birahi)

Sedikit darah mungkin keluar dari vulva induk atau dara beberapa jam setelah “standing heat” berakhir. Lendir darah ini adalah akibat perdarahan yang terjadi di dinding rahim.

(sumber:https://www.researchgate.net/figure/Showing-timing-of-insemination-or-natural-service-for-cows-in-heat-Source-Mikel-2009_fig1_325472932 )

Inseminasi harus dilakukan 12-24 jam sebelum masa ­metestrus ini. Yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua siklus birahi pada sapi berakhir dengan keluarnya darah. Keluarnya darah tidak selalu berarti ovulasi telah terjadi atau tidak. Keluarnya darah hanya menunjukkan bahwa ternak telah melewati siklus. Agar perkawinan pada induk dan dara berhasil, sangat penting memperhatikan mereka pada saat “standing heat” ada waktu-waktu tertentu dimana pengamatan tanda-tanda birahi akan lebih berhasil. Selain pengamatan birahi yang tepat, factor terjadinya konsepsi sangat dipengaruhi oleh ketepatan teknis Inseminasi serta tingkat higienitas selama proses inseminasi tersebut.

Jika semua point penting diatas telah diusahakan, maka besar harapan akan terjadi tingkat konsepsi yang tinggi di peternakan sapi rakyat.

Inseminasi harus dilakukan 12-24 jam sebelum masa ­metestrus ini. Yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua siklus birahi pada sapi berakhir dengan keluarnya darah. Keluarnya darah tidak selalu berarti ovulasi telah terjadi atau tidak. Keluarnya darah hanya menunjukkan bahwa ternak telah melewati siklus. Agar perkawinan pada induk dan dara berhasil, sangat penting memperhatikan mereka pada saat “standing heat” ada waktu-waktu tertentu dimana pengamatan tanda-tanda birahi akan lebih berhasil. Selain pengamatan birahi yang tepat, factor terjadinya konsepsi sangat dipengaruhi oleh ketepatan teknis Inseminasi serta tingkat higienitas selama proses inseminasi tersebut.

Jika semua point penting diatas telah diusahakan, maka besar harapan akan terjadi tingkat konsepsi yang tinggi di peternakan sapi rakyat.