PROBLEM KOLAM FILTER DI MUSIM HUJAN

Senin, 08 Februari 2021

Pada musim hujan seperti sekarang ini hati-hatilah dengan pembudidaya yang memelihara ikan koi di  kolam filter, karena ada beberapa kasus ikannya mengalami kematian setelah diguyur hujan semalam. Air hujan memiliki kandungan materi yang beragam, tetapi secara garis besar terdiri dari air (H2O) mencapai 99%, asam nitrat, karbon, asam sulfat dan garam. Prosentase kandungan materi tersebut bisa berubah tergantung daerahnya, yaitu pada daerah yang tingkat polusinya tinggi maka kandungan asamnya akan tinggi, demikian juga sebaliknya.

Proses kematian ikan setelah hujan, biasanya dimulai dengan menyendiri di pojok kolam dan esoknya mati, kemudian disusul kematian beruntun dalam waktu yang relatif cepat. Kalaupun ikan yang baru dimasukkan ke kolam adalah suatu hal yang lumrah karena dimungkinakan kurang bisa beradaptasi, kalaupun media filter yang kotor, itu juga bisa sebagai penyumbang amoniak, nitrat, nitrit, kalaupun sarana prasarana kolam filter yang belum memenuhi persyaratan juga bisa menjadi pemicu kegagalan dalam sitem budidaya kolam filter. Tetapi kalau ketiga faktor di atas sudah terpenuhi dan ikan koi mengalami kematian berarti ada faktor lain yang menjadi penyebab kematian pada budidaya koi di kolam filter.

Dalam SNI 7734:2011 dijelaskan persyaratan hidup ikan koi adalah:

  1. pH 6,5 – 8
  2. DO min 5 mg/L
  3. Amoniak 0,02 mg/L
  4. Nitrat maks 50
  5. Nitrit maks 0,2 mg/L
  6. Suhu 20-26oC

Saat hujan maka kondisi normal seperti persyaratan diatas akan berubah, air hujan menyebabkan temperatur dan pH air kolam turun secara cepat sehingga ikan sulit beradaptasi, jika sampai pH dibawah 5 akan menyebabkan ikan stres sehinga nafsu makan turun dan malas bergerak. Kemudian diikuti daya tahan tubuh ikan juga turun sehingga bakteri pathogen mulai menyerang (yang paling sering dijumpai di lapangan adalah jenis Aeromonas, sp.) dan kalau ikan tidak mampu bertahan akan  terjadi kematian, dan jika tidak segera tertangani akan terjadi kematian satu kolam.

Upaya pencegahan dari berbagai pengalaman yang bisa dirangkum agar tidak terjadi kerugian yang lebih besar  adalah, kita harus mengukur pH air kolam setelah terjadi hujan dan tambahkan bahan yang bersifat alkali (kapur, backing soda dan ZA) secara bertahap jika pH turun dibawah ambang batas, jangan membuat kolam dibawah talang dan genting agar saat hujan volume air hujan yang masuk tidak terlalu banyak, lengkapi kolam dengan over flow yang berguna untuk mengalirkan air hujan di permukaan kolam, kurangi pakan karena saat cuaca dingin metabolisme ikan menurun, agar sisa bahan organik tidak menyebabkan turunnya pH, jika memungkinkan pasang atap pada kolam filter sehingga air hujan tidak masuk ke kolam kita.

Upaya penanganan yang bisa dilakukan setelah terjadi hujan lebat di kolam adalah adalah pembuangan air atas sebanyak sepertiga bagian dan digantikan dengan air sumur. Hal ini bertujuan untuk membuang air hujan yang berpotensi untuk merubah ph dan suhu secara drastis. Dengan perlakuan ini diharapkan akan meminimalisir perubahan yang terjadi.  Semoga bermanfaat.

 

Blitar, 5 Februari 2021

Penulis :

Irawan Hardiatmono, S.Pi. (1)

NIP. 197305052009011011

Pengawas Perikanan Ahli Muda Bidang Pembudidayaan Ikan

Arif Muttaqin, S.Pi (2)

NIP. 19820925 200901 1 008

Pengendali Hama dan Penyakit Ikan Ahli Muda

SITUASI PENYAKIT BRUCELLOSIS PADA SAPI PERAH PETERNAKAN RAKYAT DI KABUPATEN BLITAR Dukung Operasi Pasar Disnakkan Kabupaten Blitar Siapkan 2.000 Paket Telur dan Produk Ikan PENTINGNYA VAKSINASI PADA HEWAN PELIHARAAN WASPADAI PENYAKIT BRUCELLOSIS PADA SAPI Kunjungan Kerja Bupati dan Wakil Bupati Blitar Hj. Rini Syarifah, A.Md dan H. Rahmat Santoso, S.H, M.H di Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar
Dinas Peternakan dan Perikanan
Alamat : Jl. Cokroaminoto No.22, Kepanjen Lor, Kec. Kepanjenkidul, Kota Blitar, Jawa Timur 66117
E-mail : | Phone: (0342) 801136